Nov 2025 | Conf.
Laporan ini menyajikan analisis komprehensif mengenai postur pertahanan nasional tahun 2025, mengevaluasi efektivitas implementasi doktrin Sishankamrata di tengah dinamika ancaman hibrida. Studi ini mengintegrasikan data dari 4.216 artikel dan post berita strategis, 1.790.445 respons komentar publik, dengan total likes sebanyak 33.848.651, total views mencapai 1.21 milyar, dengan total interaksi mencapai 1.253.929.014. Serta hasil audit forensik digital terhadap infrastruktur Dewan Pertahanan Nasional (DPN). Temuan utama mengungkap adanya "Paradoks Keamanan Asimetris": sementara dukungan publik terhadap modernisasi militer dan ketegasan kedaulatan wilayah (IMIP) mencapai indeks sentimen positif +0.85, akan tetapi kepercayaan terhadap keamanan data negara mengalami erosi signifikan.
Secara teknis, teridentifikasi 2.240 Total Kerentanan pada aset digital strategis yang berkorelasi lurus dengan isu kebocoran data di Dark Web (DigitalGhost/Bjorka). Analisis menyimpulkan bahwa keputusan untuk tidak membentuk Angkatan Siber mandiri menuntut penguatan radikal pada Cyber Deterrence by Denial. Tanpa intervensi segera pada celah keamanan dasar ini, Indonesia menghadapi risiko "Dilema Rumah Kaca"—kuat secara fisik namun rapuh secara digital—yang dapat mendelagitimasi capaian strategis pertahanan nasional.
Lanskap pertahanan nasional Indonesia pada tahun 2025 ditandai oleh dualitas strategis yang tajam. Di satu sisi, terjadi penguatan postur militer yang signifikan melalui pembentukan Dewan Pertahanan Nasional (DPN) dan akselerasi modernisasi Alutsista demi menjaga kedaulatan fisik. Namun, di sisi lain, kedaulatan digital negara menghadapi ancaman asimetris yang serius, mulai dari kerentanan infrastruktur situs pemerintah hingga maraknya kebocoran data strategis di Dark Web yang menguji kepercayaan publik.
Oleh karena itu, laporan ini bertujuan untuk melakukan audit komprehensif terhadap kesiapan pertahanan negara dengan memadukan analisis kebijakan, sentimen publik, dan forensik digital. Secara spesifik, analisis ini mengkaji: (1) Kesenjangan antara narasi kebijakan "Sishankamrata" dengan realitas keamanan siber di lapangan; (2) Peta persepsi publik terhadap kinerja DPN dan isu kedaulatan; serta (3) Tingkat eksposur risiko teknis pada aset digital strategis pemerintah.
Analisis ini menggunakan pendekatan mixed-method yang menggabungkan intelijen media dan forensik digital. Dataset utama terdiri dari 4.216 artikel berita strategis dan 10.000 (sample) komentar publik (file articles_cleaned.json), serta hasil Deep Vulnerability Scanning terhadap infrastruktur digital Dewan Pertahanan Nasional yang mendeteksi 2.240 titik kerentanan sistem.
Sikap publik diukur menggunakan algoritma Lexicon-based Sentiment Analysis yang dikalibrasi untuk konteks pertahanan, menghasilkan skor indeks dari -1 (Sangat Negatif/Marah) hingga +1 (Sangat Positif/Patriotik). Selain sentimen, analisis ini juga menerapkan Cyber Risk Scoring berdasarkan Common Vulnerability Scoring System (CVSS) untuk mengkuantifikasi tingkat bahaya pada aset digital negara.
Untuk memetakan "Paradoks Keamanan Asimetris", dilakukan klasterisasi kata kunci (keyword clustering) dari data teks berita dan komentar ke dalam kategori strategis berikut:
Analisis ini didasarkan pada integrasi data masif dari sumber berita strategis, respons publik di media sosial, dan hasil audit teknis infrastruktur digital negara.
| METRIK / PARAMETER | TOTAL DATA |
|---|---|
| Total Dataset Artikel Berita | 4.216 |
| Total Komentar | 1.790.445 |
| Total Likes | 33.848.651 |
| Total Shares | 7.776.196 |
| Total Tayang | 1.210.513.722 |
| Total Interaksi | 1.253.929.014 |
Distribusi sentimen publik berdasarkan 10.000 komentar yang dianalisis menunjukkan pola dukungan yang spesifik namun kritis:
| LABEL SENTIMEN | JUMLAH & PERSENTASE |
|---|---|
| Netral (Informatif/Diskusi) | 4.216 (72,3%) |
| Positif (Dukungan/Apresiasi) | 2.097 (21,0%) |
| Negatif (Kritik/Kecaman) | 672 (6,7%) |
Interpretasi Data: Secara agregat, diskursus publik didominasi oleh sentimen Netral hingga Positif, terutama terkait figur kepemimpinan dan ketegasan kedaulatan fisik. Namun, terdapat anomali signifikan pada data teknis di mana tingginya dukungan politik berbanding terbalik dengan Skor Keamanan Siber yang sangat rendah (High Risk), menciptakan celah delegitimasi pada isu kedaulatan data.
| SUBTOPIK / ISU | VOL. DISKUSI | SKOR SENTIMEN | SIFAT DOMINAN | INTERPRETASI ANALIS |
|---|---|---|---|---|
| Modernisasi Alutsista | High | +0.85 | Sangat Positif | Publik memberikan apresiasi tinggi terhadap pembelian Rafale, Fregat, dan teknologi militer baru sebagai simbol kebangkitan kekuatan nasional. |
| Figur Pimpinan (Prabowo/Menhan) | Very High | +0.82 | Positif | Narasi kepemimpinan yang tegas dalam diplomasi dan kedaulatan menjadi penopang utama sentimen positif pemerintah. |
| Swasembada Pangan | Medium | +0.75 | Positif | Program ketahanan pangan (cetak sawah/gizi) yang melibatkan TNI dilihat sebagai langkah konkret pro-rakyat. |
| Dewan Pertahanan (DPN) | Medium | +0.15 | Netral / Informatif | Publik masih dalam tahap "wait and see". Diskusi didominasi oleh berita formal pelantikan deputi dan tupoksi lembaga. |
| Revisi UU TNI (Jabatan Sipil) | High | +0.10 | Terbelah (Mixed) | Isu paling kontroversial. Terdapat polarisasi tajam antara dukungan internal militer vs kritik aktivis sipil mengenai dwifungsi. |
| Keamanan Siber (Data Leak) | High | -0.65 | Negatif | Titik terlemah narasi pemerintah. Isu "DigitalGhost" dan "Ransomware" memicu skeptisisme publik terhadap kapabilitas perlindungan data. |
| Kedaulatan Ekonomi (IMIP) | Medium | -0.80 | Sangat Negatif | Isu "Negara dalam Negara" di kawasan industri tertutup memicu sentimen nasionalisme reaktif (kemarahan) dan tuntutan penegakan hukum keras. |
Kesimpulan Subtopik: "Pusat Gravitasi" dukungan publik terletak pada isu Fisik & Militer (Alutsista), sementara "Titik Rawan" delegitimasi berada pada isu Digital & Kedaulatan Ekonomi (Siber/Tambang).
Pemindaian terhadap 10.000 komentar menggunakan kamus kata kunci sensitif menunjukkan distribusi isu sebagai berikut:
Analisis: Meskipun topik Militer paling banyak dibicarakan, isu Korupsi dan Kebocoran Data menjadi pemicu utama sentimen negatif dan toksisitas, mengindikasikan titik rawan kepercayaan publik.
10 Komentar Positif (Dukungan Modernisasi & Figur)
10 Komentar Negatif (Isu Data, Korupsi & Kedaulatan)
Berikut adalah matriks konseptual yang merangkum posisi strategis, bentuk sentimen, dan narasi utama dari berbagai aktor kunci yang terlibat dalam diskursus pertahanan dan keamanan nasional.
| AKTOR / KELOMPOK | POSISI STRATEGIS | SENTIMEN DOMINAN | NARASI & ARGUMEN UTAMA |
|---|---|---|---|
| Presiden & Menhan (Sjafrie) | Penentu Kebijakan (Policymaker) | Positif – Tegas & Berdaulat | Mengusung doktrin Sishankamrata, modernisasi Alutsista, dan penegakan kedaulatan fisik (IMIP). Menolak pembentukan Angkatan Siber demi efisiensi. |
| TNI (Satsiber & Matra) | Pelaksana Operasional | Positif – Loyalitas | Siap mengamankan kedaulatan negara. Namun, menghadapi kendala teknis dan kesenjangan kapabilitas dalam menghadapi ancaman perang siber modern. |
| Publik (Isu Militer/Fisik) | Pendukung (Supporter) | Sangat Positif – Patriotik | Bangga dengan pembelian Alutsista canggih (Rafale/Fregat) dan sikap tegas pemimpin terhadap pihak asing. Menganggap TNI sebagai pelindung utama. |
| Publik (Isu Data/Siber) | Kritikus (Watchdog) | Negatif – Marah & Skeptis | Kecewa berat atas kebocoran data berulang (PDNS/Kemenhan). Menganggap negara "telanjang" dan gagal melindungi privasi warga negara. |
| Hacker (DigitalGhost/Bjorka) | Aktor Ancaman (Threat Actor) | Oportunis / Destruktif | Mengeksploitasi kerentanan teknis (vulns) untuk keuntungan ekonomi atau reputasi. Membuktikan lemahnya sistem keamanan digital pemerintah. |
| Industri Strategis (IMIP) | Objek Vital Nasional | Negatif – Sorotan Publik | Menjadi pusat polemik "Negara dalam Negara". Dianggap tertutup dan memicu kecurigaan publik terkait kedaulatan ekonomi vs investasi asing. |
| Pakar & Akademisi | Mitra Kritis | Netral – Konstruktif | Mengingatkan bahaya "Paradoks Keamanan". Mendesak penguatan regulasi siber dan transparansi, bukan sekadar pembelian senjata fisik. |
| Media Massa | Amplifikator Isu | Campuran (Mixed) | Mengamplifikasi keberhasilan diplomasi pertahanan (Positif), namun juga secara agresif memberitakan insiden kebocoran data (Negatif). |
Kesimpulan Matriks: Terdapat polarisasi tajam antara dukungan pada Kepemimpinan Politik (sangat kuat) dengan kepercayaan pada Sistem Birokrasi Digital (sangat lemah). Aktor "Hacker" mengisi celah delegitimasi ini.
Secara garis besar, polarisasi sentimen publik terbagi dalam tiga klaster utama:
Matriks pada Bagian 4.1 menggambarkan dinamika interaksi aktor sebagai berikut:
Pertama, kelompok PRO (Positif) meliputi: Pemerintah (Presiden/Menhan), TNI, dan Masyarakat Umum (Isu Fisik). Sentimen mereka umumnya melihat kebijakan pertahanan saat ini sebagai:
Kedua, kelompok KONTRA (Negatif) terutama berasal dari: Netizen (Isu Siber), Aktivis Privasi, dan Korban Kebocoran Data. Argumen utama kemarahan mereka adalah:
Dengan demikian, resistensi publik tidak ditujukan pada TNI sebagai institusi, melainkan pada tata kelola birokrasi yang dianggap gagap teknologi dan kurang transparan.
Ketiga, kelompok NETRAL terdiri dari Pakar, Akademisi, dan Media Massa yang memandang isu ini secara objektif. Mereka tidak sekadar mendukung atau menolak, tetapi memberikan peringatan konstruktif (warning) mengenai bahaya "Paradoks Keamanan Asimetris"—di mana kekuatan fisik yang dibangun bisa runtuh jika fondasi digitalnya keropos.
Berikut adalah Rumusan Kebijakan Strategis yang dirancang sebagai acuan bagi Dewan Pertahanan Nasional (DPN) atau Presiden dalam mengambil keputusan, berdasarkan fakta dan dinamika yang terekam dalam data:
Kebijakan Kedaulatan Ekonomi & Otoritas Negara (Isu "Negara dalam Negara")
Integrasi Komando Siber (Tanpa Angkatan Siber Mandiri)
DPN harus menyusun aturan turunan yang menegaskan bahwa penempatan TNI di jabatan sipil bukan "jatah", melainkan berbasis Sertifikasi Kompetensi Spesifik.
DPN merumuskan doktrin bahwa setiap Batalyon Teritorial (Koter) harus memiliki kemampuan ganda: Tempur (Combat) dan Konstruksi/Produksi (Engineering/Farming).
DPN menetapkan kebijakan bahwa setiap pembelian Alutsista, dari negara manapun, wajib memiliki arsitektur Sistem Terbuka yang bisa diintegrasikan dengan Data Link Nasional Indonesia.
Berdasarkan data, Indonesia sedang menghadapi "banjir" kebocoran data yang diperdagangkan secara ilegal di forum Dark Web seperti BreachForums. Kasus yang mencolok meliputi:
Banyaknya data strategis dan pribadi yang "berserakan" di dark web mengindikasikan tiga hal fundamental:
Banyaknya data strategis dan pribadi yang "berserakan" di dark web mengindikasikan tiga hal fundamental:
Berikut adalah analisis mendalam mengenai data pemindaian (deep scanning) pada situs dpn.go.id dan subdomainnya (dev.dpn.go.id, cloud.dpn.go.id). Hasil pemindaian mengungkapkan total 2.240 kerentanan (vulnerabilities) yang dapat dimanfaatkan oleh aktor jahat untuk mengakses sistem secara tidak sah. Klasifikasi kerentanan tersebut meliputi:
| STATUS PARAMETER | TOTAL HOLE |
|---|---|
| Critical (Kritis) | 509 |
| High (Tinggi) | 585 |
| Medium (Sedang) | 523 |
| Low (Rendah) | 355 |
Temuan paling fatal adalah Hardcoded Cloud Credentials (Kunci AWS terekspos di kode publik) dan Remote Code Execution (RCE). Artinya, peretas tidak perlu "membobol" sistem dengan canggih; mereka cukup menggunakan kunci yang tertinggal untuk mengambil alih server, mencuri data strategis, atau melumpuhkan sistem (seperti kasus Ransomware PDNS). Kondisi ini sangat kontradiktif dengan fungsi DPN sebagai lembaga strategis pertahanan negara.
Infrastruktur digital DPN saat ini berada dalam kondisi "Open Door" (Pintu Terbuka) bagi aktor ancaman. Pemindaian mendalam mendeteksi total 2.240 kerentanan, di mana 509 (22,7%) di antaranya berstatus KRITIS.
Ditemukan di: https://www.dpn.go.id/themes/stories/js/main.js dan https://cloud.dpn.go.id/dist/core-common.js Dampak: Penyerang dapat mengakses, menghapus, atau menyandera seluruh data yang tersimpan di AWS S3 bucket atau mengontrol instance EC2 terkait.
Ditemukan di halaman berita terkait laporan korps kenaikan pangkat TNI. Dampak: Penyalahgunaan saluran komunikasi (SMS/Suara) untuk kampanye phishing atau pembengkakan tagihan komunikasi.
Lokasi : https://cloud.dpn.go.id/dist/core-common.js dan core-main.js (Parameter: v)
Bukti : Payload seperti ; ls -la berhasil mengembalikan output perintah server (misalnya uid=).
Dampak : Kompromi server total. Penyerang dapat memasang pintu belakang (backdoor), ransomware, atau melompat ke jaringan pemerintah lainnya.
Bukti : Payload seperti ; ls -la berhasil mengembalikan output perintah server (misalnya uid=).
Lokasi : Tersebar di https://cloud.dpn.go.id dan https://dev.dpn.go.id
Mekanisme : Aplikasi gagal membersihkan input, memungkinkan kueri seperti {"$ne": null} (Tidak sama dengan Null) untuk memanipulasi database.
Dampak : Akses data tanpa izin, atau bahkan melewati login admin dengan teknik seperti {"$or": [{"username": "admin"}]}.
Bukti : Payload seperti ; ls -la berhasil mengembalikan output perintah server (misalnya uid=).
"Benteng digital Dewan Pertahanan Nasional (DPN) saat ini dalam kondisi terbuka lebar. Sementara organisasi berfokus pada strategi pertahanan tingkat tinggi, halaman belakang digitalnya sendiri disusupi oleh celah keamanan fundamental—mulai dari kunci cloud yang tertinggal di kode publik hingga password 'admin:admin'. Banyaknya kerentanan NoSQL Injection dan Command Injection menunjukkan bahwa lingkungan cloud.dpn.go.id dan dev adalah zona yang sangat rapuh, dan kemungkinan besar sudah menjadi 'taman bermain' bagi aktor ancaman (threat actors) tanpa terdeteksi."
Ketahanan nasional Indonesia di era 2025-2026 sangat ditentukan oleh kemampuan negara menutup kesenjangan asimetris antara kekuatan pemukul militer (Hard Power) dan ketahanan infrastruktur digital (Cyber Power). Berikut adalah butir-butir kesimpulan strategis:
Terdapat divergensi tajam dalam postur pertahanan negara. Secara fisik, Indonesia semakin kuat melalui modernisasi Alutsista (Rafale/Fregat) dan ketegasan diplomasi. Namun, secara digital, negara berada dalam kondisi rapuh (Fragile State) akibat kelalaian elementer pada infrastruktur siber lembaga strategis (DPN/Kemenhan), menciptakan risiko delegitimasi capaian militer oleh serangan siber murah.
Sentimen publik menunjukkan pola unik: dukungan patriotik yang sangat tinggi (+0.85) terhadap figur kepemimpinan politik dan TNI, namun diimbangi dengan skeptisisme mendalam (-0.80) terhadap birokrasi pengelola data. Isu "DigitalGhost" dan kebocoran data telah menggerus kepercayaan publik terhadap kemampuan negara melindungi privasi warganya (Digital Trust Deficit).
Keputusan strategis untuk tidak membentuk Angkatan Siber mandiri menuntut prasyarat mutlak: adanya kolaborasi sipil-militer yang tangguh. Temuan 509 kerentanan kritis membuktikan bahwa prasyarat ini belum terpenuhi. Tanpa kemampuan Cyber Deterrence by Denial pada infrastruktur sipil/pemerintah, integrasi pertahanan semesta di ranah digital hanyalah wacana yang rentan dieksploitasi.
Kasus kawasan industri (IMIP) menegaskan bahwa publik memandang kedaulatan ekonomi setara dengan kedaulatan teritorial. Keberadaan "zona eksklusif" yang minim pengawasan aparat negara memicu sentimen nasionalisme reaktif. Penegakan hukum fisik di objek vital nasional menjadi kunci meredam isu "Negara dalam Negara".
Ancaman terbesar bagi Indonesia saat ini bukanlah invasi militer terbuka, melainkan infiltrasi data strategis dan sabotase infrastruktur (Ransomware) yang melumpuhkan pengambilan keputusan. Temuan kunci akses cloud yang terekspos di publik adalah indikator bahaya nyata spionase asing.
Untuk memulihkan postur pertahanan yang utuh, Dewan Pertahanan Nasional (DPN) harus memprioritaskan:
Connect with our team to discover how Semestra can support your cybersecurity and intelligence goals. Whether you need technical guidance, partnership opportunities, or product information, we’re ready to help.
Looking to enhance your organization’s digital intelligence or defense capabilities? Connect with Semestra’s specialists to discuss your goals, challenges, and roadmap.
[ SEMESTRA BASECAMP ]
Trace Route: Confidential
Intelligence Streams Active in: 0.9720° S, 116.7131° E
Signals monitored 24/7
from multi-region intelligence hubs.
For secure correspondence
Initiate contact via our official channel:
reroute@semestra.com